Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2007 : 14.3) persediaan adalah asset :
a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;
b. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan, atau,
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Pendapatan Warren, reeve, fess (2005 : 440) mengatakan persediaan adalah “barang dagang yang disimpan untuk dijual dalam operasi bisnis perusahaan, dan bahan yang digunakan dalam proses produksi atau disimpan untuk tujuan itu”.
Persediaan yang diperoleh perusahaan langsung dijual kembali tanpa mengalami proses produksi selanjutnya disebut persediaan barang dagang.
Perusahaan menggunakan system inventory stock karena perputaran pesediaannya cukup tinggi dan beragam untuk mengantisipasi penjualan supaya tidak terjadi kekurangan persediaan.
Macam-macam barang dagangan :
a. Persediaan barang dagangan
Barang yang ada digudang dibeli oleh pengecer ata perusahaan dagang untuk dijual kembali. Barang yang diperoleh untuk dijual kembali diperoleh secara fisik tidak diubah kembali, barang tersebut tetap dalam bentuk yang telah jadi ketika meninggalkan pabrik pembuatnya.
b. Persediaan manufaktur
1. Persediaan bahan baku
Barang berwujud yang dibeli atau diperoleh dengan cara lain dan disimpan untuk penggunaan langsung dalam membuat barang untuk dijual kembali.
2. Persediaan barang dalam proses
Barang yang membutuhkan proses lebih lanjut sebelum penyelesaian.
3. Barang jadi
Barang yang sudah selesai diproses dan siap untuk dijual.
c. Persediaan rupa-rupa
Barang seperi perlengkapan kantor kebersihan dan pengiriman, persediaan ini biasanya dicatat sebagai beban penjualan umum.
Biaya – biaya Persediaan > semua biaya pembelian, biaya produksi dan biaya lain-lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi siap untuk dijual/dipakai.
Biaya pembelian
Ø Barang dalam perjalanan
1. Syarat penjualan Frangko gudang FOB Shipping Point, hak atas barang dipindahkan kepada pembeli ketka barang dimuat kea lat angkut ketika akan diangkut.
2. Syarat penjualan Franko Gudang pembeli (FOB) destination, maka penerapan aturan hokum tidak memerlukan pengakuan transaksi sebelum barang diterima pembeli.
Ø Diskon
Merupakan potongan harga yang diperlakukan sebagai pengurang biaya dalam pencatatan pembelian barang juga harus diperlakukan sebagai pengurang biaya persediaan.
Diskon tunai adalah potongan harga yang diberikan faktur-faktur yang dibayar dalam periode tertentu. Diskon tunai biasanya ditetapkan sebagai suatu persentase harga yang tidak perlu dibayar.
Diskon melalui termin misalnya 2/10,n/30, berate perusahaan akan memberikan diskon sebesar 2% dalam kurun waktu pembayaran 10 hari setelah tanggal faktur dan jatuh tempo pembayaran adalah 30 hari.
Perbedaan Pencatatan Diskon Metode Bersih Dengan Metode Kotor
Pembelian barang dagangan seharga $ 2500 dikurangi diskon dagang 30/20 dan diskon tunai 20%.
2500 – (30% x 2500) = $1750
1750 – (20% x 1750) = $1400
1400 – (2% x 1400) = $1372
a. Diasukmsikan bahwa pembayaran faktur dilakukan dalam periode diskon
b. Diasumsikan bahwa pembayaran faktur dilakukan setelah periode diskon
c. Penyesuaian yang diperlukan pada akhir periode dengan mengasumsikan bahwa faktur belum dibayar dan periode diskon telah lewat.
Metode Bersih | Metode Kotor |
Persediaan $1372 Utang Dagang $1372 | Persediaan $1400 Utang Dagang $1400 |
Utang Usaha $1372 Kas $1372 | Utang Usaha $1400 Persediaan $28 Kas $1372 |
Utang Usaha $1372 Diskon yg tidak diambil $28 Kas $1400 | Utang Usaha $1400 Kas $1400 |
Diskon yang tdk diambil $28 Utang Usaha $28 | Tidak ada jurnal |
Ø Retur Pembelian dan pengurangan harga
Penyesuaian atas faktur perlu juga jika barang ternyata rusak atau jika kualitasnya lebih rendah daripada yang dipesan.
Jika menggunakan metode Perpetual :
Utang Usaha Rp xxx
Persediaan Rp xxx
Jika menggunakan metode periodic
Utang Usaha Rp xxx
Retur dan Potongan pembelian Rp xxx
Ø PPN (Pajak Pertambahan Nilai)
PPN ditujukan untuk orang pribadi maupun badan yang timbul karena digunakannya factor-faktor produksi pada setiap jalur perusahaan dalam menyimpan, menghasilkan, menyalurkan, dan memperdagangkan barang atau pemberian pelayanan jasa kepada konsumen.
Semua biaya untuk mendapatkan dan mempertahankan laba termasuk bunga modal, sewa, tanah dan upah kerja merupakan unsure pertambahan nilai yang menjadi dasar PPN.
Ø Biaya Lain-lain
Yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menempatkan persediaan dalam kondisi dan tempat siap dijual.
METODE PENCATATAN PERSEDIAAN
1. Sistem Periodik
Menurut Dycman, Dukes, Davis (2000 : 381) mengatakan bahwa :
Dalam system persediaan periodic, perhitungan periodic actual atas berang-barang yang ditangan pada akhir periode akuntansi ketika menyiapkan laporan keuangan. Barang-barang dihitun, ditimbang, atau jika tidak diukur, dan jumlahnya dikaitkan dengan unit biaya untuk memberi nilai persediaan.
2. Sistem Perpetual
Menurut Niseonger, Warren, Reeve dan Fess (1999:366) :
Dalam system persediaan perpetual, semua kenaikan dan penurunan barang dagang dicatat dengan cara yang sama seperti mencatat kenaikan dan penurunan kas. Akun persediaan barang dagang pada awal periode akuntansi mengindikasikan stok pada tanggal tersebut.
Pada saat pembelian jurnalnya :
Persediaan barang dagangan Rp XXX
Kas/Utang Usaha Rp xxx
Pada saat penjualan jurnalnya
HPP Rp xxx
HPP Rp xxx
Persediaan barang dagangan Rp xxx
METODE PENILAIAN PERSEDIAAN
1. Penilaian Persediaan Berdasarkan Harga Pokok
a. Metode Identifikasi Khusus
Dyckman, Dukes, Davis (2000:392) mengatakan bahwa, “metode identifikasi biaya khusus mensyaratkan bahwa setiap barang yang disimpan harus ditandai secara khusus sehingga biaya per unitnya dapat diidentifikasi setiap waktu”.
Metode identifikasi biaya khusus menghubungkan arus biaya secara langsung dengan arus biaya secara periodic.
Sebenarnya metode ini sangat menarik tapi memiliki biaya yang tinggi. Apalagi kalau jenis dan harga barang berbeda pasti akan lamban dan membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu metode ini sangat jarang digunakan oleh perusahaan dagang.
b. Metode LIFO (last in First Out)
1. Sistem Periodik
Adalah penilaian persediaan yang ditentukan dengan cara saldo periodic yang ada dikalikan harga pokok per unit barang yang masuk pada awal periode. Bila saldo periodic terlalu besar dari barang yang masuk pada awal periode, diambilkan dari harga pokok per unit yang masuk berikutnya.
Contoh :
Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual Rp 2.500.000
Dikurangi persediaan akhir
(500 unit per perhitungan fisik)
300 unit @Rp 5.000
(terlama tersedia, dari persediaan 1 jan) Rp 1.500.000
200 unit @ Rp 2.000
(terlama tersedia, dari persediaan 1 jan) Rp 400.000
Persediaan akhir Rp 1.900.000
HPP Rp 600.000
2. Sistem Perpetual
Adalah suatu metode penilaian persediaan yang pencatatan persediaannya dilakukan secara terus-menerus dalam kartu persediaan.
HPP dicatat berdasarkan harga pokok pertama kali masuk. Jumlah yang masih tersisa merupakan nilai persediaan akhir. Dalam periode inflasi metode LIFO akan menghasilkan kemungkinan laba bersih terendah. Alasannya karena harga pokok barang yang diperoleh terakhir akan mendekati nilai ganti barang yang dijual.
Keuntungan lain adalah penghematan pajak karena laba yang dihasilkan adalah yang paling rendah sehingga akan menghasilkan pajak penghasilan yang lebih rendah.
Bila dibandingkan dengan metode FIFO ataupun metode rata-rata dalam periode deflasi, pengaruh yang terjadi adalah kebalikannya.
Contoh : LIFO Perpetual
Tgl | Pembelian | Penjualan (pengeluaran | Saldo Persediaan | ||||||
Unit | Biaya/Unit ($) | Total Biaya ($) | Unit | Biaya/ Unit ($) | Total Biaya ($) | Unit | Biaya/ Unit ($) | Total Biaya ($) | |
Jan 1 | 500 | 1.00 | 500 | ||||||
Jan 7 | 300 | 2 | 600 | 500 | 1 | 500 | |||
300 | 2 | 600 | |||||||
Jan 8 | 200 | 2 | 400 | 500 | 1 | 500 | |||
100 | 2 | 200 | |||||||
Jan 9 | 100 | 2 | 200 | ||||||
100 | 1 | 100 | 400 | 1 | 400 | ||||
Persediaan Akhir Harga Pokok Penjualan (HPP) 700 | 400 | ||||||||
c. Metode FIFO
Ikatan Akuntan Indonesia (2007 : 14.21) merumuskan FIFO sebagai berikut, “formula MPKP / FIFO mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian”.
1. Sistem Periodik
Persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo periodic yang ada dikalikan dengan harga pokok per unit barang yang terakhir kali masuk. Bila saldo periodic ternyata lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk, sisanya dipergunakan harga pokok per unit yang masuk sebelumnya.
Contoh :
Persediaan Awal Rp 2.500.000
Ditambah pembelian selama periode tersebut Rp 3.000.000
Harga pokok barang tersedia untuk dijual Rp 5.500.000
Dikurangi persediaan akhir perhitungan periodic persediaan
300 unit @Rp 5.000 (terbaru tgl 24) Rp 1.500.000
200 unit @ Rp 2.000 Rp 400.000
Persediaan akhir Rp 1.900.000
HPP Rp 3.100.000
2. Sistem Perpetual
Suatu metode penilaian persediaan yang pencatatan persediaannya dilakukan terus-menerus dalam kartu persediaan.
HPP dicatat berdasarkan harga pokok barang pertama masuk. Jumlah yang masih tersisa merupakan nilai persediaan akhir . Selama periode inflasi penggunaan metode FIFO akan menghasilkan kemungkinan laba tertinggi dibandingkan dengan metode-metode yang lain, karena perusahaan cenderung untuk menaikkan harga jualnya sesuai dengan perkembangan pasar tanpa memperhatikan kenyataan bahwa barang yang terdapat dalam persediaaan telah diperoleh sebelum terjadinya kenaikan harga (inventory profit/laba persediaan atau laba semu/illusory profit).
Tgl | Pembelian | Penjualan (pengeluaran | Saldo Persediaan | ||||||
Unit | Biaya/Unit ($) | Total Biaya ($) | Unit | Biaya/ Unit ($) | Total Biaya ($) | Unit | Biaya/ Unit ($) | Total Biaya ($) | |
Jan 1 | 500 | 1.00 | 500 | ||||||
Jan 7 | 300 | 2 | 600 | 500 | 1 | 500 | |||
300 | 2 | 600 | |||||||
Jan 8 | 200 | 1 | 200 | 300 | 1 | 300 | |||
300 | 2 | 600 | |||||||
Jan 9 | 100 | 1 | 100 | 200 | 1 | 200 | |||
300 | 2 | 600 | |||||||
100 | 1 | 100 | 100 | 1 | 100 | ||||
300 | 2 | 600 | |||||||
Persediaan Akhir Harga Pokok Penjualan (HPP) 400 | 700 | ||||||||
d. Metode Rata-Rata
1. Periodik
Ikatan Akuntan Indonesia (2007:14.21) merumuskan biaya rata-rata tertimbang, biaya setiap barang ditentukan berdasarkan biaya rata-ratatertimbang dari barang serupa pada awal periode dan biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode. Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala atau pada setiap penerimaan kiriman, bergantung pada keadaan perusahaan.
Asumsi metode ini adalah unit dijual tanpa memperhatikan urutan pembeliaannya dan menghitung harga pokok penjualan serta persediaan akhir.
Contoh :
Barang Tersedia | Per Unit | |||
1 Jan | Pembelian | 200 | $ 1 | $200 |
9 Jan | Pembelian | 300 | $ 1,1 | 300 |
15 Jan | Pembelian | 400 | $ 1,16 | 464 |
24 Jan | Pembelian | 100 | $1,12 | 126 |
Total Tersedia | 1.000 | 1.120 | ||
Persediaan akhir rata-rata tertimbang | ||||
31 Jan | 300 | 1,12 | 336 | |
HPP Rata-rata tertimbang | ||||
Penjualan selama Januari | 700 | 1,12 | 784 | |
Unit biaya rata-rata tertimbang (1.120 / 1000 = 1.12) | ||||
2. Rata-rata Bergerak (system pencatatan perpetual)
Metode ini tidak menandingkan biaya per unit paling akhir dengan pendapatan penjualan periode berjalan. Namun menandingkan biaya rata-rata periode tersebut dengan pendapatan dan nilai persediaan akhir, leh karena itu jika biaya per unit pasti meningkat atau menurun maka metode rata-rata bergerak akan memberikan jumlah persediaan dan harga pokok yang berada diantara metode penilaian FIFO dan LIFO.
a. Metode LCM (Nilai Terendah antara harga pokok atau harga pasar)
Ø Menetapkan nilai pasar
>> biaya penggantian jika jatuh diantara harga tertinggi dari harga terendah
>> harga terendah, jika biaya penggantian lebih kecil dari harga terendah
>> harga tertinggi, jika biaya penggantian lebih tinggi daripada harga tertinggi
Ø Membandingkan nilai pasar dengan harga pertama-tama dan memilih jumlah yang lebih rendah.
Komoditas | Kuantitas Persediaan | Biaya Per Unit | Harga Psaar Per Unit Biaya | Pasar | Lebih rendah Biaya atau Pasar | ||
A | 400 | $ 10,25 | $ 9,50 | $ 4,100 | $3,800 | $ | 3,800 |
B | 12 | 22,50 | 24,10 | 2,700 | 2,892 | $ | 2,700 |
C | 600 | 8,0 | 7,75 | 4,800 | 4,650 | $ | 4,650 |
D | 280 | 14,00 | 14,75 | 3,920 | 4,130 | $ | 3,920 |
TOTAL | $15,520 | $15,472 | $15,070 | ||||
Sumber : Warren, Reeve, Fees (2005 : 457)
b. Penilaian pada nilai realisasi Bersih
Menurut Warren, Reeve, Fees (2005 : 457) nilai realisasi adlah estimasi harga jual dikurangi biaya pelepasan langsung, seperti komisi penjualan”.
Hal ini timbul misalnya, jika suatu barang persediaan, yang dicantumkan sebesar nilai realisasi karena harga jualnya telh turun, masih dimiliki pada periode berikutnya dan harga jualnya telah meningkat.
c. Metode Eceran
Menurut Warren, Reeve, Fees (2005 : 459) mengatakan, “metode persediaan eceran (retail inventory metgod) mengestimasikan biaya persediaan berdasarkan hubungan antara harga pokok barang dagang yang sama. Untuk menggunakan metode ini harga eceran dari semua barang dagang harus ditetapkan dan dijumlahkan. Berikutnya, persediaan eceran ditentukan dengan mengurangi penjualan selama periode bersangkutan.
Estimasi biaya persediaan kemudian dihitung dengan mengalihkan persediaan eceran dengan rasio biaya terhadap harga jual (eceran) barang dagang yang tersedia untuk dijual.
Harga Pokok | Harga Eceran | ||
Perseiaan barang dagangan, 1 jan | $ 20.000 | $ 25.000 | |
Pembelian Bulan Jan (Bersih) | $ 30.000 | $ 40.000 | |
Barang yang tersedia dijual | $ 50.000 | $ 65.000 | |
Rasio biaya thdap harga eceran | $50.000 $65.000 = 77% | ||
Penjualan bulan Jan (bersih) | $ 55.000 | ||
Persediaan brg dagang 31 Jan pd eceran | $ 10.000 | ||
Persediaan brg dagangan 31 jan pd estimasi biaya ($10,000x77%) |
d. Persediaan Berdasarkan Metode Laba Kotor
Soemarso (2002 : 394) menyatakan bahwa , “ metode laba bruto atau metode laba kotor (gross profit method) : metode penetapan harga pokok persediaan secara taksiran yang didasarkan atas hubungan, yang terdapat dalam periode yang lalu, antara laba bruto dengan harga jual. Metode laba kotor menggunakan estimasi laba kotor yang direalisasi selama periode dimaksud untuk mengetimasi persediaan pada akhir periode. Laba kotor biasanya diestimasikan dari tahun sebelumnya, disesuaikan dengan setiap perubahan yang terjadi dengan harga pokok dan harga jual selama periode berjalan.
Persediaan barang dagangan, 1 jan | $ 25.000 | ||
Pembelian Bulan Jan (Bersih) | $ 40.000 | ||
Barang yang tersedia dijual | $ 65.000 | ||
Penjualan bulan Jan (bersih) | $ 55.000 | ||
Dikurangi : estimasi laba kotor (30% (dlam soal) x $55.000) | $ 16.500 | ||
Estimasi harga pokok penjualan | $38.500 | ||
Estimasi Persediaan brg dagang 31 Jan | $ 26.500 | ||
Sumber : Bahan Kaji Universitas Sumatra Utara